Wednesday, November 28, 2018

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM KIMIA MENGAMATI KEPOLARAN SUATU SENYAWA


SMA 1 MALUA ENREKANG 
Hai sob kali ini gue lagi mau share materi tentang laporan praktikum kimia "pengaruh suhu terhadap lau reaksi"  semoga saja loporan ini dapat memberikan sebuah manfaat sesuai apa yang anda ingin kan. Selamat mempelajari. 

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM KIMIA
“MENGAMATI KEPOLARAN SUATU SENYAWA”
Di
S
U
S
U
N
Oleh :
        1.             ARINI. S
        2.             NURMIATI
            KELAS XII IPA 1

SMA NEGERI 1 MALUA
KAB. ENREKANG
TAHUN AJARAN 2017/2018



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat melaksanakan sebuah praktikum dan menyelesaikannya dengan baik hingga menjadi sebuah laporan praktikum.
Laporan praktikum ini adalah sebuah laporan yang kami buat setelah kami melakukan praktikum mengenai Uji kepolaran suatu senyawa. Laporan tersebut kami susun dengan sistematis dan sebaik mungkin berdasarkan pada hasil praktikum yang sebenarnya.
Kami juga nengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang sangat berperan penting dalam proses kegiatan praktikum ini.terutama pada guru pembimbing yang sekaligus menjadi guru mata pelajaran kimia yang telah memberi bimbingan dan arahan kepada kami. Tak  lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman sekalian yang telah membantu saat praktikum berlangsung.
Akhirnya , semoga laporan praktikum ini bermanfaat untuk penlitian lanjutan. Kami menyadari sebagai manusia tidak luput dari kekurangan. Oleh karena itu , kami akan menerima jika ada saran maupun kritik terhadap laporan praktikum yang telah kami susun ini .
  

         Malua, Agustus 2017

Penyusun

  
BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Latar belakang
Senyawa polar : Senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur-unsurnya. Hal ini terjadi karena unsur yang berikatan tersebut mempunyai nilai keelektronegatifitas yang berbeda. Contoh : H2O, HCL, HF, HI dan HBr
Senyawa non polar : Senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur-unsur yang membentuknya. Hal ini terjadi karena unsur yang berikatan mempunyai nilai elektronegatifitas yang sama/hampir sama. Contoh : O2, CO2,CH4 dan Cl2
Ciri-ciri senyawa polar :
1.                  Dapat larut dalam air dan pelarut polar lain
2.                  Memiliki kutub( +) dan kutub (-) , akibat tidak meratanya distribusi elektron
3.    Memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk molekul diketahui) atau     memiliki perbedaan keelektronegatifan.
Contoh : alkohol, HCl, PCl3, H2O, N2O5
 Ciri-ciri senyawa non polar :
1.                   Tidak larut dalam air dan pelarut polar lain
2.                   Tidak memiliki kutub (+) dan kutub (-) , akibat meratanya distribusi elektron
3.     Tidak memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk molekul diketahui) atau keelektronegatifannya sama
Contoh : Cl2, PCl5, H2, N2
Senyawa polar memiliki perbedaan keelektronegatifan yang besar, perbedaan harga ini mendorong timbulnya kutub kutub listrik yang permanen (dipol permanent). Jadi antar molekul polar terjadi gaya tarik dipol permanent. Senyawa non polar memiliki perbedaan keelektronegatifan yang kecil, bahkan untuk senyawa biner dwiatom (seperti O2,H2) perbedaan keelektronegatifannya = 0 .
Bila terdapat senyawa non polar terjadi gaya tarik dipol sesaat   (gaya dispersi/ gaya london ) gaya ini terjadi akibat muatan + inti atom salah satu atom menginduksi elektron atom lain sehingga terjadilah kutub kutub yang sifatnya sesaat.
Polarisasi Ikatan Kovalen
Suatu ikatan kovalen disebut polar, jika Pasangan Elektron Ikatan (PEI) tertarik lebih kuat ke salah 1 atom. Contoh 1 : Molekul HCl
Meskipun atom H dan Cl sama-sama menarik pasangan elektron, tetapi keelektronegatifan Cl lebih besar daripada atom H. Akibatnya atom Cl menarik pasangan elektron ikatan (PEI) lebih kuat daripada atom H sehingga letak PEI lebih dekat ke arah Cl (akibatnya terjadi semacam kutub dalam molekul HCl).
Jadi, kepolaran suatu ikatan kovalen disebabkan oleh adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom-atom yang berikatan. Sebaliknya, suatu ikatan kovalen dikatakan non polar (tidak berkutub), jika PEI tertarik sama kuat ke semua atom.
Contoh 2 : Dalam tiap molekul di atas, ke-2 atom yang berikatan menarik PEI sama kuat karena atom-atom dari unsur sejenis mempunyai harga keelektronegatifan yang sama. Akibatnya muatan dari elektron tersebar secara merata sehingga tidak terbentuk kutub.
Jadi dapat disimpulkan bahwa secara umum, senyawa polar larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar larut dalam pelarut nonpolar. Air merupakan pelarut universal yang bersifat polar. Oleh karena itu, air akan melarutkan senyawa-senyawa yang bersifat polar, dan sebaliknya, tidak melarutkan senyawa nonpolar. Berdasarkan sifat pelarut air tersebut, maka kita dapat mengetahui kepolaran suatu senyawa dengan menguji kelarutannya dalam air.
1.2       Tujuan percobaan
1.      Mengetahui tingkat  kepolaran suatu senyawa
2.      Mengetahui berbagai senyawa molekul pada cairan bersifat polar atau nonpolar terhadap medan listrik
1.3       Manfaat percobaan
Dapat mengetahui bahwa Suatu larutan dikatakan bersifat polar apabila larutan tersebut tertarik saat didekatkan dengan medan listrik sedangkan suatu larutan dikatakan bersifat non polar apabila larutan tersebut tidak tertarik saat didekatkan dengan medan listrik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Senyawa kovalen adalah senyawa yang terjadi antara unsur-unsur nonlogam dengan unsur-unsur nonlogam melalui penggunaan elektron bersama. Senyawa-senyawa kovalen umumnya memiliki ikatan yang kurang kuat dibandingkan senyawa-senyawa ion. Senyawa-senyawa kovalen juga memiliki titik didih dan titik cair rendah.(Syirayukikasma,2011)
Menurut bambang  (2009) Senyawa polar adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur-unsurnya. Hal ini terjadi karena unsur yang berikatan tersebut mempunyai nilai keelektronegatifitas yang berbeda.
Senyawa non polar : Senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur-unsur yang membentuknya. Hal ini terjadi karena unsur yang berikatan mempunyai nilai elektronegatifitas yang sama/hampir sama.( fitrimarwaningsi,2013).
Senyawa polar adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur unsurnya. Hal ini terjadi karena unsur yang berkaitan tersebut mempunyai nilai keelektronegatifitas yang berbeda. Senyawa non polar adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur-unsur yan membentuknya. Hal ini terjadi karena unsur yang berkaitan mempunyai nilai elektronegatifitas yang sama/hampir sama.(lukman afandi,2013 memliki pengertian kemiripan dengan bambang.)
Ikatan yang terbentuk dari pemakaian bersama sepasang elektron (atau lebih dari satu pasang ) antara dua atom disebut ikatan kovalen.Senyawa kovalen adalah senyawa yang terjadi antara unsur-unsur nonlogam dengan unsur-unsur nonlogam melalui penggunaan elektron bersama. (David E. Golberg, 2003).
Perbedaan keelektronegativan dan bentuk molekul yang tidak simetri pada senyawa kovalen mengakibatkan senyawa tersebut memiliki sifat polar. Pada senyawa kovaken polar tejadi pengkutuban, artinya ada bagian yang bersifat lebih negatif dan ada bagian yang bersifat lebih positif.
Elektronegativitas adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan gaya tarik – menarik atom pada elektron dalam suatu ikatan (James E. Brady, 1994). Sedangkan menurut David E. Golberg (2003) elektronegativitas adalah ukuran semikuantitatif terhadap kemampuan sebuah atom untuk menarik elektron yang terlibat dalam ikatan kovalen.

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1            Alat
1.     


Buret (digunkan untuk memindahkan regen dengan berbagai volume secara akurat).




2.      Gelas Kimia (beaker) : Berupa gelas tinggi, berdiameter besar dengan skala sepanjang dindingnya.





3.        Statif adalah salah satu perlengkapan dalam laboratorium berupa batang besi / baja yang didirikan tegak pada sebuah lempeng besi / baja yang menjadi aki / dasarnya.







4.        Penggris mika. Digunakan untuk menguji kepolran suatu senyawa. Dengan menggosok penggaris ke rambut (rambut di gunakan sebagai pengganti kain wol). 
3.2            Bahan
Bahan-bahan untuk menguji kepolaran suatu senyawa:
1.       Rambut
2.       Air
3.       Alkohol 70%
4.       Aseton
5.       CCl4
Cara kerja
Cara menguji kepolaran suatu senyawa antara lain :
1.       Pasang buret pada statis
2.       Masukkan larutan CCl4 kedalam buret sampai hampir penuh
3.       Gosoklah penggrais pada kain atau rambut sehingga tersa hangat
4.  Dekatkan pada potongan-potongan kertas sudah tertarik berarti sudah bermuatan listrik.
5.  Alirkan larutan CCl4 pada buret pada saat yang sama dekatkan penggaris yang bermuatan listrik
6.       Amati apa yang terjadi
7.       Ulangi percobaan 5 dengan mengganti CCl4 dengan alkohol,aseton,dan air.

  
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1       Tabel  
NO
CAIRAN
ALIRAN ZAT CAIR
DI BELOKKAN
TIDAK DI BELOKKAN
1
CCl4
-
ü   
2
Aseton
ü   
-
3
Alkohol
-
ü   
4
Air
ü   
-

4.2       Pembahasan
1.      Manaka diantara cairan tersebut yang termasuk senyawa polar
2.      Mengapa senyawa-senyawa tersebut polar
Analisis data
Karena bermuatan, senyawa polar tentu dapat menarik elektron. Medan magnet dan medan listrik mempunyai muatan juga. Sifat itu dapat digunakan untuk menyelidiki kepolaran beberapa senyawa molekul. Polar artinya kutub, sehingga dapat dikatakan bahwa senyawa-senyawa yang bersifat polar memiliki kutub. Jika didekatkan magnet pada suatu senyawa polar yang mengucur, maka senyawa tersebut akan bereaksi sehingga kucurannya akan mendekati atau menjauhi magnet.
1.           Air
Pada saat keran tabung buret dibuka, air mengucur ke dalam gelas kimia dan didekatkan dengan penggaris plastik yang telah digosok pada rambut kering. Ternyata, membuat aliran air yang semula lurus membelok ke arah medan listrik yang dihasilkan oleh penggaris. Hal ini karena Molekul air yang tersusun atas 2 atom H dan 1 atom O merupakan ikatan kovalen polar. 
Dianalisis dengan : Senyawa air memiliki rumus kimia H2O, artinya terdiri dari 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen. Atom hidrogen memiliki elektron valensi 1 sedangkan atom oksigen memiliki elektron valensi 6. Maka pada senyawa ini akan terbentuk 2 ikatan kovalen tunggal dan memiliki pasangan elektron bebas. Sehingga senyawa ini digolongkan pada senyawa polar.
2.      Aseton
Pada saat keran buret dibuka, aseton yang mengalir menuju gelas kimia sewaktu didekati oleh penggaris beraliran listrik tidak mengalami pembelokkan atau reaksi apapun. Hal ini karena molekul aseton mempunyai ikatan kovalen polar.
Dianalisis dengan :Aseton atau propanon memiliki rumus kimia CH3COCH3. Pada senyawa ini, ditemukan 3 atom carbon, 6 atom hidrogen, dan 1 atom oksigen. Atom-atom ini membentuk ikatan kovalen tunggal dan rangkap dua, dan pada senyawa ini tidak ditemukan pasangan elektron bebas. Oleh karena itu, menurut struktur Lewis-nya, senyawa ini dimasukkan dalam senyawa non-polar, meskipun pada percobaan digolongkan senyawa polar. Pada dasarnya, senyawa ini merupakan senyawa semi-polar.
3.      Alkohol
Pada saat keran buret dibuka, etanol yang mengalir menuju gelas kimia yang awalnya lurus sewaktu didekati oleh penggaris beraliran listrik mengalami pembelokkan. Hal ini karena molekul etanol mempunyai ikatan kovalen polar.
Dianalisis dengan :Senyawa alkohol dengan rumus kimia C2H5OH tersusun dari 2 atom Carbon, 6 atom hidrogen, dan 1 atom oksigen. Senyawa ini membentuk 8 ikatan kovalen tunggal dan tidak memiliki pasangan elektron bebas sehingga termasuk senyawa polar.
4.      CCl4
CCl4 Berdasarkan susunan ruang atom molekul CCl4 berbrntuk simetris, 4 atom Cl tersebar di sekitar atom C secara merata 4 arah. . Elektron tersebar merata, sehingga dapat disimpulkan bahwa molekul CCl4 bersifat nonpolar. Dalam percobaan ini pun dapat diketahui bahwa aliran larutan CCl4 tidak dapat tertarik oleh penggaris yang bermuatan listrik  , ini menandakan bahwa CCl4 memiliki sifat nonpolar.


BAB V
KESIMPULAN
5.1            Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan  bahwa apabila suatu benda bermuatan listrik didekatkan pada cairan tertentu maka akan ada reaksi yang berbeda-beda tergantung molekul cairan tersebut.
Reaksi pembelokan suatu cairan ketika didekati benda bermuatan listrik terjadi apabila cairan tersebut mempunyai ikatan kovalen polar. Sedangkan apabila tidak ada reaksi maka cairan tersebut mempunyai ikatan kovalen Non polar.

 
DAFTAR PUSTAKA

David, E.G.,2003,Kimia Untuk Pemula, Alih Bahasa: Sherly Affandy, Edisi Kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta
James,E.B., Kimia Universitas : Asas & Struktur , Alih Bahasa: Sukmariah  Maun,Kamianti Anas Dan Tilda S. Sally, Binarupa Aksara,Tangerang




Friday, November 16, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA PENGARUH SUHU TERHADAP LAJU REAKSI


SMA 1 MALUA ENREKANG 
Hai sob kali ini gue lagi mau share materi tentang laporan praktikum kimia "pengaruh suhu terhadap lau reaksi"  semoga saja loporan ini dapat memberikan sebuah manfaat sesuai apa yang anda ingin kan. Selamat mempelajari. 

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
“PENGARUH SUHU TERHADAP
LAJU REAKSI”
DI
S
U
S
U
N
OLEH :
1.    Arini s
2.    Iwan
3.    Muhammad Taufiq
4.    Aditya
5.    Anjas maulana saputra
6.    Herman

SMAN 1 MALUA
KABUPATEN ENREKANG 2015/2016



BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar belakang masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat reaksi-reaksi kimia dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat seperti petasanyang meledak, ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat seperti pengkaratan besi.
Reaksi kimia adalah proses perubahan zat reaksi menjadi produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah pereaksinya akan semakin sedikit, sedangkan produk semakin banyak. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju perubahan konsentrasi per satuan waktu. Waktu yang digunakan dapat berupa detik, menit, jam, hari, bulan, maupun tahun, tergantung pada lamanya reaksi berlangsung.
Laju reaksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya yaitu konsentrasi, suhu, luas permukaan, tekanan dan katalis.
Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk mengetahui laju reaksi kimia yang ada dalam kehidupan dan bagaimana perlakuan untuk meningkatkan laju reaksi.

B.   Tujuan percobaan
-        Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
-        Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan suhu terhadap laju reaksi
-        Untuki menentukan persamaan laju reaksi kimia

C.  Manfaat percobaan
Untuk mengetahui berapa lama waktu yang akan di gunakan pada percobaan tersebut yaitu campuran larutan Na2S2O3 (10ml) dan Hcl (10ml).



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.      Pengertian laju reaksi

Laju rekasi adaalah perubhana jumla pereaksi dan hasil pereaksi per satuan menit.karena reaksi berlangsung kearah pembentukan hasil maka laju reaksi tak lain dari pengurungan jumlah pereaksi per satuan waktu.(Wood Keenan Kleinfelter,1989).
Laju reaksi adalah atau kecepatan reaksi menyatakan banyaknya reaksi kimi yang berlangsung per satuan waktu.(sukamto 1989)
Laju reaksi adalah mentakan molaritas zat terlarut dalam rekasi yang dihasilkan tiap detik reaksi.(cahrles wood 1996)

B.      Factor yang mempengaruhi laju reaksi
Pada laju reaksi terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju reaksi. Selain bergantung pada jenis zat yang beraksi laju reaksi dipengaruhi oleh 
a.       Konsentrasi Pereaksi
Pada umumnya jika konsentrasi zat semakin besar maka laju reaksinya semakin besar, dan sebaliknya jika konsentrasi pula, dan sebaliknya jika sentrasi suatu zat semakin kecil maka laju reaksinya pun semakin kecil. Untuk beberapa reaksi, laju reaksinya pun semakin kecil. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau reaksi dinamakan orde reaksi.
b.      Luas Permukaan
Suatu reaksi mungkin melibatkan pereaksi dalam bentuk padat, luas permukaan (total) zat padat akan bertambah jika ukurannya diperkecil. Semakin zat padat terbagi menjadi bagian kecil, semakin cepat reaksi berlangsung. Bubuk zat padat biasanya menghasilkan reaksi yang lebih cepat dibandingkan sebuah bongkah zat padat dengan massa yang sama. Bubuk padat memiliki permukaan yang lebih besar dari pada sebuah bengkah zat padat.
c.       Suhu atau Temperatur
Laju reaksi juga dapat di percepat atau diperlambat dengan mengubah suhunya. Ketika suhunya dinaikkan maka laju reaksi akan meningkat pula. Sebagai perkiraan kasar, sebagai perkiraan besar, sebagai reaksi berlangsung dengan suhu ruangan maka laju reaksi akan berlipat ganda setiap kenaikan 100C.
Perkiraan  ini bukan keadaan yang mutlak dan tidak bisa diterapkan pada seluruh reaksi. Bahkan bila pun mendekati benar, laju reaksi akan berlipat ganda setiap 90C atau 110C atau setiap suhu tertentu. Angka dari derajat suhu yang diperlukan untuk melipat gandakan laju reaksi akan berubah secara bertahap seiring dengan meningkatnya suhu.
Beberapa reaksi pada hakikatnya sangat cepat, sebagai contoh reaksi perpanasan melibatkan ion yang terlarut menjadi zat padat yang tidak larut, atau reaksi ion hidrogen dengan asam dan ion hidroksi dari Alkali didalam larutan, sehingga memanaskan salah satu dari contoh ini tidak memperoleh perbedaan laju reaksi yang baik di laboratorium maupun industri akan berlangsung lebih cepat apabila di panaskan
d.      Tekanan
Bayak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Kelajuan dari reaksi seperti itu juga dipengaruhi oleh tekanan. Penambahan  tekanan dengan memperkecil Volume akan memperbesar konsentrasi, dengan demikian dapat memperbesar laju reaksi.
Peningkatan tekanan pada reaksi yang melibatkan gas pereaksi akan meningkatkan laju reaksi. Perubahan tekanan pada suatu reaksi yang melibatkan hanya zat padat maupun zat cair tidak memberikan perubahan apapun pada laju reaksi.
Dalam proses pembuatan amonia dengan proses Haber, laju reaksi antara Hidrogen dan Nitrogen ditingkatkan dengan menggunakan tekanan yang sangat tinggi. alasan utama menggunakan tekanan tinggi adalah untuk meningkatkan persentasi amonia di dalam keseimbangan campuran, namun hal ini juga memberikan perubahan yang berarti pada laju reaksi juga.
Industri yang melibatkan produksi berupa gas yang banyak dilangsungkan pada tekanan tinggi, misalnya pembuatan amonia yang menggunakan tekanan hingga 400 atm.
e.       Katalis
Katalis adalah zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tetapi zat itu sendiri tak mengalami perubahan yang kekal (tidak diskon asumsi atau tidak dihabiskan). Katalis dibagi 2 yaitu : 
-  Katalis Positif.
Katalis positif berfungsi untuk mempercepat laju reaksi dengan cara menurunkan energi pengaktifan, katalis positif disebut juga katalisator.
-  Katalis Negatif
Katalis negatif berfungsi untuk memperkuat laju reaksi. Katalis negatif disebut juga inhibator.
Adapun Jenis-jenis katalis yaitu :
-  Katalis homogen
Wujud katalis homogen ini sama dengan wujud pereaksi. Jenis katalis ini umumnya ikut beraksi tetapi pada akhirnya akan kembali lagi ke bentuk semula.
-  Katalis Heterogen
Wujud katalis homogen ini berbeda dari wujud pereaksi. Jenis katalis ini umumnya berupa logam-logam dan bereaksi yang dipercepat adalah reaksi gas-gas katalis ini tidak ikut bereaksi, tetapi melalui reaksi permukaan yaitu permukaan logam menyerap molekul-molekul udara hingga apabila dua molekul  gas yang dapat bereaksi terserap maka gas-gas itu akan mudah bereaksi katalis ini kebanyakan digunakan dalam reaksi industri.
-  Katalis biokimia
Katalis biokimia ini berfungsi untuk mempercepat reaksi-reaksi yang terjadi pada makhluk hidup. Katalis ini berupa enzim-enzim.
Dalam laju reaksi terdapat pula teori tumbukan, reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antara partikel pereaksi. Akan tetapi tidaklah setiap tumbukan antara partikel menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukkan antar partikel yang memiliki energi yang cukup serta arah tumbukan yang tepat. Sehingga dapat dikatakan bahwa laju reaksi dapat bergantung pada 3 hal, yaitu:
1.       Frekuensi Tumbukan
2.       Fraksi tumbukan yang melibatkan partikel dengan energi cukup
3.       Fraksi partikel dengan energi cukup yang tumbuhannya dengan arah yang tepat.

                                                                                                
  
BAB III

METODE PERCOBAAN


A. Alat
1.    Gelas Kimia 25 / 10 ml
2.    Gelas ukur
3.    Stopwatch
4.    Kertas
5.    Pulpen

B.    Bahan
1.       Larutan Na2S2O3 0,1 M
2.       Larutan Na2S2O3 0,2 M
3.       Larutan Na2S2O3 0,05 M
4.       Larutan HCl 0,1 M
5.       Larutan HCl 0,2 M



C.  Cara kerja
1.      Buatlah tanda silang pada sehelai kertas
2.      Masukkan kedalam 10 ml larutan Na2S2O3 0,2 M kedalam gelas kimia. Letakkan gelas kimia itu di atas kertas bertanda silang.ukur suhu larutan dan dicatat.tambahkan 10 ml larutan HCl 0,2 M. ukur dan waktu yang di butuhkan sejak penambahan larutan HCl sampai tanda silang tidak terlihat lagi.
3.      Ulangi percobaan tersebut dengan mengganti 10 ml larutan Na2S2O3 0,1 M, 10 ml larutan Na2S2O3 0,05 M, sedangkan 10 ml larutan HCl 0,2 M, 10 ml larutan HCl 0,1 M. pada data tersebut ulangi pencapuran dengan berurutan.
No
Larutan
Na2S2O3  (10 ml)
HCl (10ml)
1
0,2
0,2
2
0,1
0,2
3
0,05
0,2
4
0,2
0,1


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Tabel pengamatan

No
Larutan
Waktu
Na2S2O3  (10 ml)
HCl (10ml)
1
0,2
0,2
00:01:09
2
0,1
0,2
00:03:36
3
0,05
0,2
00:39:01
4
0,2
0,1
00:02:09

B.   Pembahasan
Pada saat larutan Na2S2O3 (0,2 M) dan HCl (0,2 M) sebanyak 10 ml. dicampurkan kedalam gelas kimia lama kelamaan tanda silang tersebut akan menghilang dan waktu yang diperlukan untuk melarutkan kedua senyawa  tersebut yaitu 00:01:09.
Pada percobaan kedua larutan Na2S2O3 (0,1 M) dan HCl (0,2 M) sebanyak 10 ml. dicampurkan kedalam gelas kimia lama kelamaan tanda silang tersebut juga akan memudar atau menghilang akan tetapi waktu yang digunakan tidak sama pada percobaan pertama yaitu 00:03:36.
Pada percobaan ketiga sama saja halnya dengan percobaan diatas yaitu mencampurkan larutan Na2S2O3 (0,05 M) dan HCl (0,2 M) sebanyak 10 ml kedalam gelas kimia lama­-kelamaan tanda silang tersebut juga akan memudar atau menghilang akan tetapi waktu yang digunakan pada percobaan ini  sangat lama yaitu 00:39:01.
Pada percobaan yang terakhir larutan Na2S2O3 (0,2 M) dan HCl (0,1 M) sebanyak 10 ml di campurkan kedalam gelas kimia lama-kelamaan juga tanda silang pada kertas akan memudar hingga tanda silang tak terlihat. Dengan waktu yang digunakaan yaitu 00:02:09.
Dari data tersebut jika dicampurkan antara senyawa Na2S2O3  dan senyawa  HCl dengan konsentrasi yang berbeda dan dimasukkan kedalam gelas kimia lama­-kelamaan tanda silang pada kertas tersebut akan memudar atau menghilang akan tetapi waktu yang digunakan berbeda pula. Hal ini di sebabkan karena pada umumnya jika konsentrasi zat semakin besar maka laju reaksinya semakin besar juga,dan sebaliknya jika konsentrasi suatu zat semakin kecil maka laju reaksinya pun semakin kecil pula.
Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumla partikel yang banyak sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat dibandingkan dengan zat yang konsentrasinya rendah.pertikel yang tersusun lebih rapat akan lebih sering bertumbukan di bandingkan dengan partikel yang susunannya renggang, sehingga kemungkinan yang terjadinya reaksi makin besar.

  
BAB IV

PENUTUP

         A.  Kesimpulan
 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah :
1.           Suhu
2.           Luas permukaan
3.           Konsentrasi
4.           Tekanan
5.           Katalis
Dari percobaan ini didapat pengaruh konsentrasi dan suhu. Pengaruh konsentrasi yaitu apabila konsentrasi suatu reaktan semakin besar, maka laju reaksi juga meningkat. Dan pengaruh suhu yaitu apabila suhu dinaikkan maka laju suatu reaksi juga meningkat.

         B.  Saran
          Sebaiknya dalam setiap percobaan laju reaksi menggunakan persepsi tingkat kekeruhan             larutan      yang sama, meskipun tanda silang tidak benar-benar tak terlihat. Sehingga dapat                 mengefisiensikan waktu dan hasil yang lebih akurat.


DAFTAR PUSTAKA

        Keenan Kleinfelter, Wood. 1989. Kimia untuk Universitas Jilid 1 . Jakarta : Erlangga
        Sukamto. 1989. Kimia Fisika. Jakarta : PT Bhineka Cipta
       Wood, Charles. 1996. Ilmu Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga